Sky Of Love Ch 1/2

Sky of Love

Author     : Sehvnfanseu

Main cast : Park Chan Yeol

                  Oh Ji Yeon

Other cast : Kim Sae Na

                   Lee Hyun Mi (slight)

                   Byun Baek Hyun (slight)

                   Kim Jong In (slight)

                         Im Yoon Ah (Slight)

Genre       : Romance, Angst

PG            :  T

Summary  : “Chanyeol.. Aku tetap mencintai langit biru. Mulai hari ini dan selalu, cinta iniyang terakhir selamanya.”

Authors Note :

Annyeonghaeyo~ Aku author baru dalam dunia ff, sebenarnya gak baru-baru banget sih ^^v. Aku mendapat inspirasi untuk menulis ff ini setelah aku menonton film Sky of Love yang dimainkan oleh Miura Haruma. Ada beberapa adegan di film itu yang aku muat kedalam ff  ini, tapi ada beberapa adegan yang aku ubah alur ceritanya. Mian kalau ceritanya aneh dan alurnya kecepatan, soalnya aku baru pertama kali bikin ff yang terinspirasi dari sebuah film. Oh iya, rencananya ini ff mau aku bikin oneshoot, tapi karena kepanjangan jadinya kubikin jadi twoshoot. Maaf tidak ada cover pict ^^ Oke deh, tanpa banyak cingcong lagi, Selamat membaca~

DON’T LIKE DON’T READ!

Sky of Love

“Ji Yeon-ah, kau terlambat.” Ucap Sae Na.

“Mianhae..” Ji Yeon membuka bekal makan siangnya.

“Sini~ Ayo makan.” Ucap yeoja yang bername tag Lee Hyun Mi.

“Ah,  aku baru menyadari kalau kau memakai lipgloss. Apa kau sedang menyukai seseorang?” Hyun Mi bertanya dengan polosnya.

“Tidak, walaupun aku ingin jatuh cinta. Aku tidak tahu untuk memulainya. Lagipula mengapa kalau aku memakai lipgloss?” Ji Yeon mulai menyantap bekal makan siangnya.

Hyun Mi  hanya mengedikkan bahunya.

“Aku rasa.. Aku menyukai seseorang.” Ucap Sae Na tiba-tiba.

“Jinjja? Nuguya?” Tanya Ji Yeon antusias.

“Kelas X-D, Byun Baek Hyun.” Jawab Sae Na tak kalah antusias.

Hyun Mi terlihat sedang sibuk mengambil sesuatu di dalam tasnya.

“Ah.. Byun Baek Hyun? Kau lebih baik menyerah. Seseorang dengan sifat dingin dan playboynya itu, mungkin dia bukan orang baik.”

“Memangnya kenapa?” Sae Na mempoutkan bibirnya.

“Kau sedang melihat apa?” Sae Na langsung merebut buku yang sedang dilihat oleh Hyun Mi.

“Kau tidak boleh lihat! Ani! Ani! Ani!” Hyun Mi mencoba merebut bukunya yang diambil Sae Na.

“Kau adalah orang yag tergila-gila akan pacar.” Ucap Sae Na kagum setelah melihat catatan tentang diri Jong In, namja yang disukai Hyun Mi.

“Memangnya ada masalah dengan itu?” Kali ini Hyun Mi yang mempoutkan bibirnya.

“Cepat berikan!” Kini buku Hyun Mi sudah berpindah tangan.

 

*S~o~L*

 

“Ah.. Dia tidak ada disini.” Sae Na mendesah kecewa, karena Baek Hyun tidak berada di kelasnya.

“Ah.. Ayo pergi. Jangan berdiri terlalu lama di depan kelas D.” Ji Yeon dan Hyun Mi menarik tangan Sae Na, agar segera kembali ke kelas mereka.

“Arraseo..”

Tiba-tiba di depan mereka ada dua orang namja yang berjalan sambil bercanda, yang ternyata adalah Chan Yeol dan Baek Hyun.

“Dia berjalan ke arah kita.. Dia keren sekali!” Ucap Sae Na histeris.

Saat itu juga, Ji Yeon dan Hyun Mi menoleh ke depan.

“Yang mana?”

“Tentu saja orang yang berambut kecoklatan itu.”

Baek Hyun tiba-tiba saja mendatangi Ji Yeon, Ji Yeon membulatkan matanya.

“Aku Baek Hyun. Dari kelas X-D, apa kau mengenalku?”

Ji Yeon hanya menggeleng.

“Ayo bertukar nomor telepon. Baiklah, maukah kau katakan padaku? Nomor teleponmu?” Ji Yeon hanya diam, tidak merespon.

“Aku ingin bertukar nomor telepon denganmu.” Ujar Sae Na yang sudah berdiri di depan Baek Hyun.

Ji Yeon pun diam-diam mundur ke belakang, tanpa melihat ke belakang. Baek Hyun merasa dia menabrak seseorang, yaitu Chan Yeol. Sekilas mata Chan Yeol bertemu dengan mata indah Ji Yeon.

“Maaf.” Ji Yeon langsung berlari. Chan Yeol terus memperhatikan punggung Ji Yeon, hingga Ji Yeon menghilang dibalik tembok.

“Aku dapat nomornya. Tapi Baek Hyun menginginkanmu.” Sae Na terengah-engah karena habis berlari mengejar Ji Yeon.

“Aaa eonnie~ Jangan begitu.. Kau pasti bisa berpacaran dengan Baek Hyun.”

“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan merebut Baek Hyun.”

“Aku berjanji, walaupun kau memberiku 1 juta won aku tidak akan merebut Baek Hyun. Percaya padaku.” Ji Yeon tersenyum lebar, menunjukkan senyum manisnya.

Wajah Sae Na yang mula-mula murung langsung berubah menjadi senang.

 

*S~o~L*

 

Di pagi hari yang cerah, terlihat Ji Yeon dan Sae Na yang sedang berjalan bersama.

“Ji Yeon-ah~ Bagaimana penampilanku hari ini? Aku menghabiskan 2 jam untuk berdandan. Ternyata memakai bulu mata palsu sangat sulit” Ucap Sae Na dengan wajah yang berseri-seri.

“Kenapa tiba-tiba kau berdandan seperti ini?” Tanya Ji Yeon heran.

“Aku masih ingin mendapatkan Baek Hyun.” Sae Na tersenyum.

“Kau serius?”

“Tentu saja.”

“Tapi.. Bulu matamu sedikit miring.”

“Eh? Benarkah? Tolong benarkan.”

“Ya! Ji Yeon-ah! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mencabut bulu matanya?” Teriak Sae Na, karena tiba-tiba saja Ji Yeon mencabut bulu mata palsunya.

“Aku berhasil mencabutnya!” Ucap Ji Yeon bangga.

“Aish! Arraseeo! Terserah kau saja Yeon-ah.” Sae Na akhirnya menyerah dengan sifat childish sahabatnya itu.

Di depan mereka, Chan Yeol lewat dengan menggunakan motor berwarna merah kesayangannya, tetapi Ji Yeon dan Sae Na tidak melihatnya karena mereka masih sibuk dengan bulu mata palsu itu. -_-

 

*S~o~L*

Ji Yeon POV

“Tidak ada, tidak ada, tidak ada. Bagaimana ini?” Aku dan Sae Na eonnie sedang mencari handponeku yang tiba-tiba saja hilang. Kami berdua sudah mencarinya kemana-mana, tetapi sampai sekarang belum ketemu juga, padahal hari sudah menjelang malam.

“Kau ingin aku menelponnya lagi?”

“Ya.”

“Bagaimana aku bisa kehilangan handphoneku setelah istirahat? Di sini juga tidak ada, ah….” Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

“Aku telepon~”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Aku mungkin menjatuhkannya di perpustakaan. Kau boleh pulang duluan eonnie.” Ucapku kepada Sae Na yang terlihat letih.

“Apa kau tidak apa-apa sendirian?” Tanya Sae Na khawatir.

“Ne, gwenchana.” Balasku.

“Ya sudah, hati-hati ne. Annyeong.”

Aku pun langsung menuju ke perpustakaan yang sudah benar-benar kosong. Aku terus mencari handphoneku di setiap sudut perpustakaan.

Tiba-tiba aku mendengar nada dering handphoneku. Aku mengikuti asal suara itu, dan ternayata handphoneku berada di susunan rak buku kimia. Handphoneku masih berdering, aku langsung mengangkat telponku, karena ku kira itu Sae Na eonnie yang menelpon.

“Sae Na eonnie, gumawo. Aku sudah menemukan handphoneku.”

“Syukurlah.” Aku terdiam, karena suara diseberang sana bukanlah suara Sae Na eonnie. Hey! Sejak kapan suara Sae Na eonnie menjadi seberat ini?

“Siapa kau?” Tanyaku menyelidik.

“Rahasia. Sampai jumpa Ji Yeon.”

Karena takut aku pun langsung memutuskan sambungan telponku. Aku ingin menelpon Sae Na eonnie, tapi nomor Sae Na eonnie tidak ada. Dan setelah ku lihat lagi, semua kontak di handphoneku hilang semua. Aku menelpon balik orang yang menelponku tadi.

“Yeobeoseyo.”

“Ada apa?”

“Um, aku pemilik dari telpon yang kau temukan.”

“Aku tahu. Aku sudah simpan nomormu.”

“Semua nomor di handphoneku hilang.”

“Aku menghapusnya.” Ucapnya sangat santai. Sontak aku membulatkan mataku.

“Wae?”

“Apakah kehilangan nomor itu sangat menganggumu? Jika orang benar-benar ingin berbicara denganmu, mereka pasti akan menelponmu.” Jawab orang itu SANGAT santai. Aku terdiam.

“Bye, selamat malam Ji Yeon.”

Titt

Aku memutuskan sambungan telponku lagi. Tiba-tiba aku panik sendiri. Bagaimana kalau yang menelponku tadi adalah orang jahat? Atau lebih parah lagi hantu? Ah! Tenang Ji Yeon, tenang. Uwaaa.. Eomma! Lebih baik aku pulang sekarang.

Setelah berjalan menuju ke rumahku selama 15 menit, dan menaiki bus aku tiba dirumahku.

Aku mencium aroma masakan eommaku yang sangat lezat.

“Eomma~ Masakan eomma selalu saja beraroma lezat. Aku lapar eomma~” Rengekku.

PLAKK

“Aww. Ya! Eonnie! Kenapa kau memukul kepalaku? Kalau aku menjadi bodoh bagaimana?”

“Kau ini seperti anak-anak saja. Umurmu sudah 17 tahun, Ji Yeon-ah. Bagaimana kau bisa mempunyai pacar kalau begini?”

“Biar saja, lagipula aku tidak ingin memiliki pacar.” Aku langsung mencomot ayam yang telah diambil oleh eonnieku.

“Ya! Ya! Ya!” Setelah kami bertatapan tajam dalam beberapa menit, tidak lama kemudian kami tertawa bersama.

“Kalian berdua berhentilah bertengkar. Jangan lupa sisakan untuk ayah kalian.” Ucap eomma.

“Baik eomma~”

“Appa~ Kapan kau bisa istirahat dari pekerjaanmu? Ayo kita berlibur. Sudah lama sekali kita tidak berlibur.

Benar juga ucapan Yoona noona. “Benar. Ayo kita liburan appa~” Ajakku juga.

“Sabar sebentar lagi, sebentar lagi appa akan meminta cuti dan kita akan berlibur selama sebulan.”

“Wuah… Benarkah? Asik.” Aku dan Yoona noona pun berhigh five ria.

Tiba-tiba handphoneku bergetar, ternyata ada pesan masuk dari Sae Na eonnie.

“Apa kau sudah menemukan handphonemu? By Sae Na!”

Aku membalas pesan Sae Na eonnie. “Aku mememukannya.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Selamat malam Ji Yeon.”

“Selamat malam eonnie.”

Setelah membereskan piring-piring di atas meja, aku langsung pergi ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Baru beberapa saat mataku terpejam, aku langsung tertidur lelap.

 

Jam 2 pagi handphoneku tiba-tiba berdering. Aku langsung menerima panggilan masuk itu.

“Yeobeoseyo.”

“Ini aku.” Tunggu, aku hafal suara ini.

“Kau mau apa?” Ucapku ketus.

“Kenapa kau ketus sekali?” Bagaimana tidak ketus? Coba bayangkan, kau sedang berpetualang di alam mimpi, dan disaat kau sedang asyik di alam mimpi, tiba-tiba handphonemu berdering. Dan ternyata yang menelponku adalah orang yang menyebalkan ini?

“Tidak apa.”

“Kau sudah tidur ya? Suara mengantukmu benar-benar manis.”

Aku langsung duduk tegap. “Aku sudah bangun.”

“Nomorku terdaptar paling pertama kan?”

“Tidak.”

Jadi dia menelponku sepagi ini hanya untuk menanyakan itu? Baiklah.

Titt

Aku langsung memutuskan panggilannya dan mematikan handphoneku.

Aku tidak habis pikir dengan orang itu. Bagaimana bisa dia terus saja menelponku? Seperti sekarang ini.

“Sebenarnya apa tujuanmu menelponku setiap saat?”

“Kau menghalangi jalan.” Ucap eomma yang sedang menyedot debu.

Aku langsung berdiri di sofa.

“Pindahlah, dia bilang kau menghalangi jalan.” Orang ini mulai mengaturku.

“Kau tidak punya teman mengobrol yang lain?”

“Ibu Ji Yeon sepertinya ada di rumah dari tadi.”

“Apa kau dengar apa yang kau kukatakan? Dan berhenti memanggil namaku.”

“Memangnya kenapa? Kita teman bukan.”

“Jadi,beritahu namamu. Tahun dan kelas berapa kau.”

“Ah, jadi kau mulai tertarik denganku?”

“Bukan begitu, aku hanya merasa tidak adil.”

“Namaku…” Aish! Orang ini senang sekali membuatku penasaran.

“Rahasia~”

Aku memutuskan sambungan panggilannya lagi. Siapa sebenarnya orang itu? Batinku.

 

Malam ini, orang itu menelpon ku lagi, lagi dan lagi. Sebenarnya, aku senang ketika orang itu menelponku, karena aku menjadi tidak bosan. Tapi, apakah perlu setiap hari? Setiap jam? Setiap menit? Setiap detik?

Aku duduk di kusen jendela, menikmati kembang api dan angin yang sedang menerpa kulitku. Orang itu sudah mulai terbuka denganku, dia sudah mau kusuruh menyebutkan ciri-cirinya dan aku menggambarkannya di atas sebuah kertas yang sudah penuh dengan coretan tanganku.

“Bentuk wajahmu seperti apa?”

“Umm.. Mungkin oval.”

“Alismu?”

“Tebal tapi tidak tebal, tipis tapi tidak juga tipis.”

“Matamu?”

“Mataku besar.”

“Kalau hidungmu?”

“Mancung, sangat mancung.”

“Ya! Apakah seperti pinokio?” Aku tertawa pelan.

“Tidak, bukan begitu.” Ku dengar dia mendecak disebelah sana.

“Haha arraseo, arraseo..”

“Dan mulutmu?”

“Bibir ku sangat seksi.”

“Seksi?” Seksi ya? Aku menggambar bibirnya dengan tebal.

“Apa kau sudah selesai?”

“Tidak masalah, bagaimana penampilanmu huh? Bagaimana dalamnya? Seperti apa kepribadinmu?”

“Dalam? Kepribadian? Aku orang yang baik hati. Aku bahkan mengembalikan handphonemu.”

“Pembohong.”

“Apa yang kau suka?”

“Mmm… bunga. Dan juga, perpustakaan kosong di sekolah. Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku menyukai motorku.”

“Ah, apa kau dengar? Ada hantu di ruang lab biologi.”

“Kau percaya itu juga? Kau manis sekali.” Ucapnya yang membuatku terdiam.

“Ah, apa kau marah?”

“Sama sekali tidak.”

“Lalu mengapa kau tiba-tiba diam?”

“Aku ini tidak manis sama sekali.”

“Apa kau sedang mencari makanan?” Bagaimana dia bisa tau aku sedang mencari makanan? Apakah dia peramal?

“Awas nanti gemuk.”

“Maukah kau ceritakan siapa dirimu?”

“Aku sudah bilang itu rahasia.” Karena kesal, aku mendekatkan handphoneku ke hairdryer.

“Berisik sekali. Apa yang kau lakukan?”

“Tidak ada.”

“Ini tidak adil kau tahu begitu banyak tentang aku.”

“Sama sekali tidak.”

“Katakan padaku apa ciri-cirimu?”

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Aku? Melakukan pemanasan.”

“Apakah tubuhmu lembut?”

“Sangat kaku. Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Ji Yeon, jam berapa sekarang?” Teriak Yoona noona.

“Ne, aku tidur.” Balasku.

“Aku akan menutup telponnya.”

“Tidak, tidak akan aku tutup sampai kau menceritakan dirimu.”

“Bisakah kita bertemu ketika tahun pelajaran baru dimulai?” Sambungku.

“Kau ingin bertemu denganku?”

“Bukan begitu, aku hanya ingin tahu siapa dirimu.”

Tidak ada suara, “Yeobeoseyo?”

“Lihat ke langit.”

“Sudah pagi.”

“Ya, lihat keluar jendelamu.”

“Ada jejak asap.”

“Kau bisa melihatnya?”

“Aku melihatnya.”

“Foto gambar itu. Itu akan jadi kenangan pagi kita bersama.”

“Baik, aku tutup.” Aku pun menutup teleponnya dan memotret jejak asap yang sedang kulihat.

Hoamm.. Gara-gara dia menelponku terus, aku jadi tidak bisa tidur. Siapa sebenarnya kau?

Ji Yeon POV END

Di tempat lain juga ada seorang namja yang sedang memotret jejak asap.

 

*S~o~L*

 

“Kau tidak boleh melakukannya. Kenapa kau gunakan rumah kita sebagai jaminan?” Ucap eomma Ji Yeon panik.

“Tidak ada cara lain.” Appa Ji Yeon membawa istrinya menjauh dari Ji Yeon dan Yoona.

“Potong kue dulu.” Ucap Yoona kepada yeodongsaeng yang sangat disayanginya itu.

Ji Yeon hanya menggeleng pelan.

Ji Yeon menelpon orang yang sering menelponnya.

“Kenapa? Suaramu pelan sekali?”

“Ulang tahun ini tidak membahagiakan sama sekali. Orang tuaku memperebutkan sesuatu.”

“Saengil chukkae hamnida~ Saengil chukkae hamnida~ Saranghaneun Ji Yeonnie. Saengil chukkae hamnida~”

“Besok datang ke kolam renang. Walaupun terlambat, ayo kita rayakan bersama.”

“Eh?”

 

*S~o~L*

Keesokan paginya Ji Yeon pun datang ke kolam renang, seperti yang dikatakan orang itu kemarin. Hari ini, Ji Yeon sedikit memakai eyeshadow dan lipgloss.

Tiba-tiba Ji Yeon melihat orang yang pernah ditabraknya waktu itu berada di hadapannya. Ji Yeon langsung berlari menjauhi orang itu.

“Ji Yeon.” Teriak orang itu yang membuat Ji Yeon menghentikan langkahnya.

“Kenapa kau berdandan seperti ini? Ini tidak terlihat seperti kau.” Ucap orang itu lalu menghapus eyeshadow di mata Ji Yeon yang membuat Ji Yeon memundurkan langkahnya.

“Selamat ulang tahun. Namaku Chan Yeol.” Chan Yeol memberikan bunga kepada Ji Yeon.

“Ini tidak mungkin.” Ji Yeon menunduk.

“Setelah melihat ini, kau masih tidak pecaya?” Chan Yeol menunjukkan foto jejak asap yang difotonya bersama Ji Yeon.

“Kau bukan orang yang ditelepon. Karena ini terlalu menyedihkan, hadiah itu menyedihkan.” Ji Yeon langsung berbalik dan berlari menjauhi Chan Yeol. Chan Yeol hanya terdiam, tanpa ada niatan mengejar Ji Yeon.

*Di kelas*

“Harap tenang.”

“Siapa dia?” Tanya Sae Na penasaran.

“Rambut pirang. Orang yang menyeramkan.”

“Teman Baek Hyun? Chan Yeol?”

 

Ji Yeon melihat Chan Yeol sedang menyirami bunga di halaman belakang sekolah. Ji Yeon yang penasaran pun langsung mendatangi Chan Yeol.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Ji Yeon.

“Sedang menyirami bunga dan memberikan mereka makanan.” Balas Chan Yeol

Entah niatan darimana, tiba-tiba Chan Yeol menyiram Ji Yeon, dan akhirnya Chan Yeol dan Ji Yeon pulang dengan keadaan basah kuyup.

*S~o~L*

#keesokan pagi#

Kelas X-A sedang proses pembelajaran Bahasa Inggris.

Tiba-tiba handphone Ji Yeon bergetar.

“Datang ke perpustakaan sekarang.” Pesan dari Chan Yeol.

Ji Yeon mengangkat tangannya. “Seongsaenim..”

“Ada apa?”

“Aku ingin pergi ke ruang medis.”

“Kau baik-baik saja? Baiklah, pergilah.”

Ji Yeon keluar dari kelas, dan segera berlari menuju ke perpustakaan.

Sae Na dan Hyun Mi bertatapan. “Dia bohong.”

Setelah sampai di perpustakaan, Ji Yeon melihat Chan Yeol sedang menulis sesuatu.”

“Ada apa?”

“Kita bolos sekolah.”

“Eh?”

“Apanya yang eh?” Chan Yeol mengacak pelan rambut Ji Yeon.

Chan Yeol dan Ji Yeon bolos sekolah menggunakan sepeda motor kesayangan Chan Yeol kerumah Chan Yeol. Kenapa mereka bisa membolos? Karena Chan Yeol beralasan disuruh seongsaenim mengantarkan Ji Yeon yang sedang sakit.

“Kita mau kemana? Eh tunggu, kau terlalu cepat.” Chan Yeol malah semakin melajukan motornya.

*Di rumah Chan Yeol*

“Selamat datang.”

“Yo, Yu Ri noona. Noona, ini Ji Yeon.”

“Senang bertemu denganmu.”

“Aku hanya menemukan ini. Ini.” Chan Yeol menyerahkan susu strawberry kepada Ji Yeon.

“Gumawo~”

“Ayo berfoto.”

Chan Yeol dan Ji Yeon berfoto, tetapi yang terfoto hanya mata kiri Ji Yeon dan mata kanan Chan Yeol.

“Eung? Jelek sekali.”

“Berisik.”

Tiba-tiba Chan Yeol mencium bibir Ji Yeon. Ji Yeon yang belum mengerti tentang ciuman hanya menutup matanya takut.

“Hey, kenapa kau terlihat takut?”

“Apa kau akan melakukan ‘itu’ ?”

“Kau tidak pernah melakukannya?” Ji Yeon mengangguk.

“Hey, Ji Yeon. Lihat mataku. Aku berjanji kepada dirimu dan diriku sendiri, bahwa aku tidak akan ‘menyentuhmu’ sampai kau dan aku terikat oleh pernikahan. Jadi kau tidak perlu takut ya, sayang.”

“Gumawo, Chan Yeol-ah. Jadi kita berpacaran?”

“Ne, tentu saja.”

Hari sudah petang, terlihat Chan Yeol yang sedang memeluk Ji Yeon. Ji Yeon pun terbangun dari tidurnya.

“Apa kau ingin pulang, Min?” Igau Chan Yeol.

Igauan Chan Yeol itu, secara tidak langsung menyakiti hati Ji Yeon.

Ji Yeon pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Handphonenya bergetar, tanda pesan masuk.

“Maaf, aku tertidur. Aku harap kau bisa pulang dengan selamat.”

“Apakah Min itu pacarmu?” Ji Yeon hendak mengirimkan pesan itu kapada Chan Yeol, tapi dia langsung menghapusnya dan menggantinya.

“Apa aku bisa memegang janjimu?”

“Tentu saja!” Ji Yeon tersenyum melihat balasan Chan Yeol.

 

*S~o~L*

Di hari minggu yang cerah, Chan Yeol dan Ji Yeon berjanji untuk bertemu di tampat pemberentian bus.

“Yeobeoseyo, Chan Yeol? Aku sampai terlalu cepat? Baiklah, aku akan menunggumu.”

Ketika Ji Yeon sedang memainkan handphonenya, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan Ji Yeon, dan orang-orang yang keluar dari mobil langsung memasukkan paksa Ji Yeon ke dalam mobil. Ji Yeon tentu saja memberontak, namun karena tenaganya yang kecil, tidak memungkinkan keadaannya untuk melawan.

Mobil itu berhenti di padang bunga. Kesempatan itu tidak disia-siakan Ji Yeon. Ji Yeon langsung berlari ke luar secepat mungkin. Namun, orang yang membawanya tadi lebih cepat. Ji Yeon terjatuh, dan orang tadi langsung menindih Ji Yeon dan merobek paksa baju yang dipakai Ji Yeon.

Handphone Ji Yeon terus saja berdering.

Ji Yeon hanya bisa menangis dan mencoba menggapai handphonenya yang terus berdering sejak tadi. “Chan Yeol.. Chan Yeol..”

Setelah menyelesaikan tugasnya dengan memotret keadaan Ji Yeon sekarang, orang tadi langsung pergi meninggalkan Ji Yeon yang masih terbaring di padang bunga tadi.

Malam pun tiba, Ji Yeon masih saja berjalan tanpa tentu arah dengan tatapan mata kosong. Tiba-tiba Ji Yeon mendengar suara Chan Yeol memanggil namanya.

“Ji Yeon! Oh Ji Yeon! Eodiga?!” Ji Yeon langsung bersembunyi dengan tangan yang gemetar. Merasa Chan Yeol sudah dekat, Ji Yeon langsung berlari. Namun, dengan cepat Chan Yeol menarik Ji Yeon dan memeluk erat Ji Yeon.

“Hey, Ji Yeon.” Chan Yeol memandang Ji Yeon dari bawah sampai atas, Chan Yeol menemukan kejanggalan disana. Baju Ji Yeon yang sedikit robek, sehingga tubuh Ji Yeon sedikit terlihat. Namun, untung saja cardigan Ji Yeon masih bisa menutupi tubuh Ji Yeon yang gemetaran itu.

“Aku.. Aku.. Aku.. Maafkan aku, Chan Yeol. Maafkan aku…” Tanpa pikir panjang, Chan Yeol langsung memeluk Ji Yeon.

“Maafkan aku, Chanyeol. Aku tidak bisa..” Belum selesai Ji Yeon berucap. Chan Yeol langsung memotong pembicaraannya.

“Maafkan aku.. Maaf, aku tidak bisa menjagamu.” Ji Yeon membelalakkan matanya.

“Maafkan aku.. Maafkan aku.. Maafkan aku.. Maafkan aku..” Chan Yeol menangis.

“Chan Yeol? Chan Yeol?”

Lama. Chan Yeol menatap mata Ji Yeon.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Ini adalah kekuatan cintaku.” Ji Yeon sangat tersentuh dengan apa yang baru saja Chan Yeol katakan.

“Aku.. Pasti akan membalas mereka.” Ucap Chan Yeol dengan sangat yakin.

 

*Di rumah Chan Yeol*

Di sudut ranjang berukuran king size, Ji Yeon yang mengenakan jaket kebesaran milik Chan Yeol duduk dengan menekuk lututnya, dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya.

*Sedangkan, di tempat lain*

Chan Yeol mengamuk, benar-benar mengamuk. Chan Yeol menghajar habis semua orang yang ada di markas, dimana orang-orang yang menganggu Ji Yeon berada.

Chan Yeol menghajar salah satu orang itu, dan berhenti ketika orang itu mulai berbicara.

“Kami diminta untuk melakukan ini. Kami dibayar oleh yeoja yang bernama Min.”

Mendengar nama itu pun, Chan Yeol menjadi murka.

 

 

Nama itu..

 

 

 

Min….

 

 

 

 

 

 

Nama mantan kekasihnya..

 

 

TBC

TBC => To Be Continued ye bukan TuBerCulosis xD

Jujur ye, ini ff yang aku kerjakan dari jam 2 siang sampai jam 6 petang. Bentar banget ye? Iye, emang. Jadi maaf ye, kalau gak puas kalo ceritanya gaje ataupun alurnya kecepetan😀

Yang udah baca RCL ye~ Biar author ada semangat buat nulis lanjutannya😄 #digampar
Bye bye #terbangbarengnagaapiKris #malahgosong -_-

2 thoughts on “Sky Of Love Ch 1/2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s